-->

NGAJI ILMU TASSAWUF/AKHLAK

NGAJI ILMU TASSAWUF/AKHLAK

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

_*اَللّٰهُـــــمَّ صَلِّ وَسَلِم وَبَرِك عَلَی سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ وَعَلَی آلِ سَيِّـــــدِنَا مُحَمَّـــــدٍ*_
_رَبِّ زِدنِي عِلمًا وَرزُقنِى فَهمًا، اَلّلهُمَ اِنَّى اَسأَلُكَ عِلمًا نَافِعًا_ _اَللَّهُمَّ أَغْنِنِي باِلْعِلْمِ، وَزَيِّنِّيْ بِالْحِلْمِ، وَأَكْرِمْنِيْ بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِيْ بِالْعَافِيَةِ، بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ_
_سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗ  اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ_

TAWADHU'

Tawadhu’ atau rendah hati merupakan salah satu sikap terpuji sebab itu merupakan akhlak orang mukmin sejati. Seseorang yang bersikap sebaliknya–takabur–sangat dibenci oleh Allah SWT. Orang takabur diancam tidak akan masuk surga sampai ia bertobat dan tidak lagi menjadi orang takabur.

al Imam Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskan tanda-tanda orang tawadhu’ Antara lain :

فمن أمارات التواضع حبُّ الخمول وكراهية الشهرة وقبول الحق ممن جاء به من شريف أو وضيع. ومنها محبة الفقراء ومخالطتهم ومجالستهم. ومنها كمال القيام بحقوق الإخوان حسب الإمكان مع شكر من قام منهم بحقه وعذرمن قصَّر.

_“Tanda-tanda orang tawadhu’, antara lain, adalah lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal; bersedia menerima kebenaran dari siapa pun asalnya baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya; mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka; bersedia mengurusi dan menunaikan kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah menunaikan hak yang dibebankan atas mereka, sementara memaafkan mereka yang melalaikannya_

📚[ Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah, -  al Imam Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad ,halaman 148-149 ]

Syarah :

Pertama,  tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal. Orang seperti ini menghindari penonjolan diri atau mencari muka demi meraih popularitas. Artinya orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran di tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian

Kedua, menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial, dari orang yang menyatakannya. Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi, “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla (Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya)." Jadi orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang sportif atau jujur.

Ketiga, tidak segan-segan untuk bergaul dengan fakir miskin, dan bahkan secara tulus mencintai mereka. Hal ini persis seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123 : “Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i.... yuhibbul  fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.” (Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’... beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.)

Keempat, ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sehingga bersedia bertindak atas nama mereka.  Ia tidak merasa turun derajat jika yang ia bantu ternyata dari kalangan yang lebih rendah atau orang-orang biasa. Dengan kata lain orang tawadhu’ tidak suka bersikap diskriminatif sehingga hanya bersedia membantu orang-orang yang sederajat atau lebih tinggi saja.

Kelima, tidak merasa berat untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah membantu menunaikan kewajibannya, karena suatu alasan, tanpa memandang status sosialnya. Ketika ternyata ada yang lalai dalam membatu, ia tidak keberatan untuk memaafkannya. Dengan kata lain orang tawadhu’ tentu  berterima kasih atas kebaikan orang lain dan tidak keberatan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah

واللــــــــــــه أعلــم بالصـــــــــــــواب

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ اْلمَرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ،اللَّهُمَّ انْفَعْنا بِمَا عَلَّمْتَنا, وَعَلِّمْناْ مَايَنْفَعُناْ, وَ زِدْناْ عِلْمًا, اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

اَمِـــــــــين يَا رَبَ العالَمِـــــــــــين

0 Response to "NGAJI ILMU TASSAWUF/AKHLAK "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel