Kenapa Mondok Jauh-jauh?
Kenapa Mondok Jauh-jauh?
Kang Tohir
"Kenapa mas dipondokkan ke tempat yang jauh, bi?"
"Mas kamu itu laki-laki. Harus jauh sekolahnya. Karena laki-laki itu harus panjang langkahnya. Harus banyak pengalamannya. Harus beragam kenalannya. Harus luas pergaulannya (jaringannya)".
Itulah pertanyaan putri saya semalam, sebelum abangnya berangkat ke pondok. Saat ini anak saya mondok untuk pertama kalinya. Sengaja saya pilihkan pondok yang agak jauh dari rumah. Dia hanya sendiri. Tidak ada teman kampung atau sekelas yang bersamanya. Di saat yang sama, mayoritas temannya melanjutkan ke lembaga pendidikan/pesantren sekitar kampung atau masih dalam satu wilayah kabupaten.
Menuntut ilmu agama itu identik dengan bepergian jauh. Firman Allah tentang kewajiban menuntut ilmu agama.
"Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya". (QS. At-Taubah, 122).
Imam Syaukani dalam Fathu al-Qadir memberi catatan pada kata pergi mencari ilmu itu hukumnya wajib, jika di tempat sekitar tidak ada guru/kiai yang bisa mengajarkan ilmu agama.
Seberapa jauh jarak yang harus ditempuh?
Menuntut ilmu agama (mondok) memang tidak harus ke tempat yang jauh. Asalkan di tempat sekitar ada tempat yang cocok juga bisa dijadikan tujuan.
Belum ditemukan, sependek pengetahuan saya, penjelasan ulama tentang jarak tempuh dalam menuntut ilmu.
Jauh itu relatif. Terlebih di jaman yang hampir moda transportasi cepat mudah ditemukan. Fasilitas jalan cepat (tol) pun telah tersedia.
Tapi yang jelas, mondok harus ke luar kota/desa. Harus berhijrah meninggalkan kampung halaman. Itu yang tersirat dari kata "Nafara" dalam ayat di atas. Sebagaimana makna leksikal yang dimilikinya, "Nafara: Hajara wathanahu wa dlaraba fil ardli".
Dari sinilah (mungkin) muncul nasehat orang tua dulu, "Mondok iku ojo mulah-muleh, ben gak kecer ilmune turut dalan" (Mondok itu jangan sering-sering pulang, biar ilmunya tidak tercecer sepanjang jalan".
Sering pulang hanya mungkin dilakukan oleh santri "kalong", non reguler (mbajak) atau yang pondoknya dekat dari rumah. Logikanya, mondok itu yang jauh sekalian. Biar tidak mudah pulang.
Akhirnya, semoga semua orang tua sekaligus anaknya yang saat ini mondok diberi kemudahan dalam segala urusan. Aamiin.
11 Juli 2020
0 Response to "Kenapa Mondok Jauh-jauh?"
Post a Comment