-->

KEKALNYA JASAD PARA NABI AS

MAFAHIM YAJIBU ANTUSOHHA
( Paham-paham yang harus diluruskan)

Karya Imam  Ahlussunnah  Wal  Jamaah  Abad  21 :
Prof.  DR.  Sayyid  Muhammad  bin  Alwi  Al-Maliki  Al-Hasani

*الى حضرة الشيخ سيد محمد علوی المالكی الحسنی ... {الفاتحة}*
_Aku berniat tholabul ilmi karena Alloh swt_
📖📖

﷽ اللهم على سيدنا محمد ﷺ الحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافيء مزيده ....

KEKALNYA JASAD PARA NABI AS

Dalam sebuah hadits dari Aus ibnu Aus, Beliau berkata, "Rasulullah Saw bersabda:

أفضل أيامكم الجمعة فيه خلق آدم ، وفيه قبض ، وفيه النفخة ، وفيه الصعقة فأكثروا علي من الصلاة فيه ، فإن صلاتكم معروضة علي ، قالوا : وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت
فقال : إن الله حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء يقولون بلیت

"Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumu'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan wafat, terjadinya tiupan sangkakala dan kematian semua makhluk seusai ditiupnya sangkakala. Maka perbanyaklah membaca shalawat untukku
pada hari itu. Karena shalawat kalian disampkaikan kepadaku. "Bagaimana mungkin shalawat kami disampaikan kepadamu padahal jasadmu telah hancur?," tanya para sahabat. "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk menelan jasad para nabi."

Hadits  ini  diriwayatkan  oleh Sa’id  ibnu  Manshur,  Ibnu Abi Syaibah,  Ahmad  dalam Musnadnya,  Ibnu  Abi  ‘Ashim  dalam  kitab  As-Shalat,  Abu  Dawud,  An-Nasa’i,  dan  Ibnu Majah  dalam  dalam  masing-masing  Sunan  mereka  bertiga,  At-Thabarani  dalam  AlMu’jamnya,  Ibnu  Khuzaimah,  Ibnu  Hibban,  Al-Hakim  dalam  masing-masing  Kitab Shahih  mereka  berlima  dan  Al-Baihaqi  dalam  Hayaatu  Al-Anbiyaa’,  Syu’abul  Iman  dan kitab  lain karyanya. Ketahuilah  bahwa  hadits  “Sesungguhnya  Allah  mengharamkan  bumi untuk  menelan  jasad  para  nabi”  berasal  dari  banyak  sumber  yang  dikumpulkan  oleh  AlHafizh  Al-Mundziri  dalam  sebuah  risalah  khusus.  

Dalam  At-Targhib  wa  At-Tarhib  Al-Mundziri  berkata,  “Hadits  ini  diriwayatkan  oleh  Ibnu Majah  dengan  isnad  yang baik,  Ahmad,  Abu Dawud, Ibnu  Hibban  dalam  shahihnya,  dan oleh  Al-Hakim  yang  menilainya  sebagai  shahih.  Dalam  Kitab  Ar-Ruh,  mengutip  dari  Abu ‘Abdillah Al-Qurthubi,  Ibnu Al-Qayyim mengatakan,  “Shahih  dari  Nabi  Saw  bahwa bumi  tidak  menelan  jasad  para  nabi  dan  bahwa  beliau  Saw berkumpul  bersama  para  nabi pada  malam  isra’  di  Baitul  Maqdis  dan  bersama  Nabi Musa secara khusus  di  langit.  Nabi sendiri  menyatakan  :

ما من مسلم يسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

“Tidak seorang muslim pun yang memberi salam kepada Nabi Saw kecuali Allah akan mengembalikan nyawa beliau sehingga beliau menjawab salam.”

Dan hadits-hadits lain yang secara keseluruhan menyimpulkan kepastian bahwa kematian para nabi dimaksudkan bahwa mereka disamarkan dari pandangan kita meskipun mereka ada dalam keadaan hidup. Seperti halnya para malaikat yang hidup namun kita tidak bisa melihatnya.

Pandangan  Al-Qurthubi  telah  dikutip  dan  disetujui  oleh  As-Syaikh  Muhammad  AsSafarini  Al-Hanbali  dalam  Syarh  ‘Aqidatu  Ahlissunnah  sebagai  berikut  :  Abdullah  AlQurthubi  berkata,  “Guru  kami  Ahmad  ibnu  ‘Umar  Al-Qurthubi  penyusun  Al-Mufhim syarh  Muslim  mengatakan,  “Yang  menghilangkan  kemusykilan  ini  adalah  bahwa kematian  bukanlah  ketiadaan  murni.  Kematian  adalah  peralihan dari satu kondisi  ke kondisi  lain,  dengan  bukti  bahwa  para  syuhada’  setelah  kematian  dan  terbunuh,  mereka hidup  di  sisi  Allah  mendapat  rizki  dan  berbahagia.  Sedangkan  keadaan  seperti  ini  adalah kehidupan  mereka  yang  hidup  di  dunia.  Apabila  keadaan  kehidupan  para  syuhada’  seperti di  atas,  maka  para  nabi  lebih  berhak  dan  lebih  utama dengan kehidupan  seperti  itu.   Al-Qurthubi  mengatakan  bahwa  jasad  para  nabi  tidak  akan  hancur.  Terdapat  informasi shahih  dari  Jabir  bahwa  ayahnya  dan  ‘Umar  ibnu  Al-Jamuh  RA  yang  nota  bene  termasuk syuhada’  Uhud  dan  dikuburkan  dalam  satu liang, bahwa kuburan tersebut terseret  banjir namun  jasad keduanya ditemukan  tetap  utuh.  Salah satu dari keduanya  mengalami  luka dan  tangannya  diletakkan  di  atas  luka  tersebut  lalu  dikubur  dalam kondisi  demikian. Tangan  tersebut lalu disingkirkan  dari  luka  dan  dibiarkan  terlepas namun tangan itu kembali ke posisi semula. Jarak waktu antara perang Uhud dan ditemukannya jasad keduanya adalah 46 tahun. Saat Mu’awiyah mengalirkan sumber air yang digali di Madinah sekitar 50 tahun seusai perang Uhud dan memindahkan para jenazah, sekop mengenai telapak kaki Hamzah yang membuatnya berdarah dan Abdullah ibnu Haram ditemukan seakan-akan baru dikubur kemarin.  

Semua penduduk Madinah meriwayatkan bahwa pada masa kekuasaan Al-Walid saat tembok maqam Nabi Saw roboh ditemukan kaki ‘Umar ibnu Al Khaththab yang telah terbunuh sebagai syahid. As-Syaikh Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa ketika dinding maqam Nabi Saw roboh tampak oleh penduduk Madinah kaki dengan betis dan lutut yang membuat kaget ‘Umar ibnu ‘Abdil Aziz. Kemudian ‘Urwah datang kepadanya dan berkata, “Ini adalah betis dan lutut ‘Umar ibnu Al-Khaththab.” Akhirnya ucapan ‘Urwah membuat kesedihan ‘Umar ibnu Abdil Aziz hilang. 

Al-Imam Al Hujjah Abu Bakr ibnu Al-Husain Al-Baihaqi telah menyusun risalah khusus mengenai topik ini yang berisi sejumlah hadits yang menunjukkan hidupnya para nabi dan utuhnya jasad mereka. Demikian pula Al-Hafizh Al-Jalal As-Suyuthi telah menyusun risalah khusus dengan topik serupa.

Wallohu a'lam bishshowaab...
۩ﷺ۩ اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْاَلُكَ الْبَرْكَۃَ وَالسَّلَامَۃَ لِبِلَادِ اِنْدُوْنِيْسِيَا ...۩ﷺ۩ *{الفاتحة}*
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

0 Response to "KEKALNYA JASAD PARA NABI AS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel