-->

PANDANGAN AS-SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB MENYANGKUT BERDOA DI DEKAT KUBURAN

﷽ صلى الله  على سيدنا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه وسلم الحمد لله حمدا يوافي نعمه ويكافيء مزيده ....

PANDANGAN AS-SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB MENYANGKUT BERDOA DI DEKAT KUBURAN

Berdoa di dekat kuburan  bukanlah tindakan  bid’ah  atau  syirik    As-Syaikh  Muhammad ibnu  Abdil  Wahhab ditanya mengenai  pendapat  para ulama dalam sholat  istisqa’  :  “Tidak apa-apa  bertawassul dengan orang-orang  sholih”,  pendapat  Ahmad  :  “Hanya  Nabi  SAW yang  bisa dijadikan obyek  tawassul”,  bersamaan  dengan ucapan mereka  :  “Sesungguhnya makhluk  tidak  bisa  dimintai  pertolongan”.

Ia menjawab  :  “Perbedaan  di  antara  tiga  ungkapan  ini  telah  jelas  dan  tidak  masuk kategori topik yang  kami  bicarakan.  Sebagian  ulama  memperbolehkan  tawassul dengan orang -orang shalih dan sebagian  lain  membolehkan  khusus  dengan  Nabi  Saw.  Mayoritas ulama  melarang  dan  tidak  berkenan  dengan  tawassul  ini.  Persoalan  ini  adalah  persoalan fiqh meskipun yang benar  di  mata  kami  adalah  pendapat  jumhur  bahwasanya  tawassul  itu makruh.  Kami  tidak  ingkar  kepada  orang  yang  mempraktikkan  tawassul  sebab  tidak boleh  ada  pengingkaran  dalam hal-hal yang masuk  wilayah  ijtihad.  Namun  keingkaran kami  adalah  kepada  orang  yang  berdoa  kepada  makhluk  melebihi  ketika  ia  berdoa  kepada Allah.  Juga kepada orang  yang  sengaja  mendatangi  kuburan  untuk  mengiba  di  sisi kuburan  Syaikh  Abdul  Qadir  Al-Jailani  atau  tokoh  lain  seraya  memohon dihilangkannya kesusahan  diberi  pertolongan  menghadapi  kesulitan  dan  dikarunia  hal-hal  yang diinginkan  kepada  penghuni  kuburan  itu.  

Dimanakah  posisi  orang  ini  berada  di  kalangan  orang  –  orang  yang  berdoa  murni  kepada Allah  dan  hanya  berdoa  kepada-Nya  saja  tidak  melibatkan  pihak  lain,  tetapi  ia  berkata dalam  doanya : “Saya memohon  kepada-Mu  lewat  nabi-Mu,  atau  lewat  parta  rasul  atau para  hamba-Mu  yang  shalih.”  Atau  sengaja  datang  ke  kuburan  Syaikh  Ma’ruf  Al-Karkhi atau  syaikh  lain  untuk  berdoa  di  dekatnya  tetapi  ia  tidak  berdoa  kecuali  murni  kepada Allah. Maka  di  manakah  posisi  orang  ini  dalam  topik  yang  sedang  kami  bicarakan  ?” (Dikutip  dari fatwa-fatwa  As-Syaikh  Al-Imam  Muhammad  ibnu  Abdil  Wahhab  dalam koleksi  karangan  bagian  ketiga  hlm  68  yang  disebarkan  oleh Universitas Al-Imam Muhammad  Ibnu  Su’ud  Al-Islamiyah dalam pekan  As-Syaikh  Muhammad  ibnu  Abdil Wahhab).

*KUBURAN  NABI  DAN  MEMOHON BERKAH  DENGAN MENYENTUHNYA ATAU MENYENTUH JENDELA BESI DAN MENCIUMNYA*

Ketahuilah  bahwa  selayaknya  peziarah  tidak  boleh  mencium  kuburan  mulia,  menyentuh dengan  kedua  tangannya,  dan  tidak boleh menempelkan  perut  dan  punggungnya  ke dindingnya,  pagar  yang  ditutupi  dengan  kiswah  atau  jendela.  Karena  semua  tindakan  ini hukumnya  makruh  sebab  mengandung  unsur  melakukan  hal  yang  berlawanan  dengan etika  di  hadapan  Nabi  Saw.  Tujuan  mencari  keberkahan  tidak  bisa  meniadakan  status makruh  karena  tujuan  seperti  ini  adalah  sebuah  rendahnya  etika  yang  layak.  Dan  jangan tertipu  oleh  apa  yang  dilakukan  orang-orang  awam karena yang benar  adalah  apa  yang dikatakan  para  ulama  dan  mereka  sepakat  berlawanan  dengan  sikap  orang  awam sebagaimana  dijelaskan  oleh  An-Nawawi  dalam  Al-Iidlaahnya.  Dalam  Al-Minnah  dan  AlJawhar,  Ibnu  Hajar  secara  panjang  lebar  menguatkan  pandangan  ulama  di  atas.  Dalam Al-Ihyaa’,  Al-Ghazali  mengatakan,  “Menyentuh  dan  mencium  kuburan  adalah  tradisi golongan  Yahudi  dan  Nashrani.”

Al-Fudlail  ibnu  ‘Iyadl  mengatakan  sesuatu  yang  artinya  sebagai  berikut  :  “Ikutilah  jalanjalan  menuju  hidayah  dan  jangan  pedulikan  sedikitnya  mereka yang  menempuh  jalan tersebut.  Jauhilah  jalan-jalan  menuju  kesesatan  dan  jangan  terpengaruh  oleh  banyaknya mereka  yang  menuju  kehancuran.  Barangsiapa  yang  terbersit  dalam  hatinya  bahwa mengusap  dengan  tangan  dan  semisalnya  lebih  besar  dalam  memberikan  keberkahan maka  anggapan  ini  adalah  karena  kebodohan  dan  kelalaiannya.  Karena  keberkahan  hanya ada  pada  hal-hal  yang  sesuai  dengan  syari’at.  Maka  bagaimana  mungkin  layak  adanya keutamaan  dalam  hal  yang  berlawanan  dengan  kebenaran.”  Al-Majmu’  jilid  8  hlm  275

Wallohu a'lam bishshowaab...

0 Response to "PANDANGAN AS-SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB MENYANGKUT BERDOA DI DEKAT KUBURAN "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel