-->

MENGAPA HARUS BER-NU?

MENGAPA HARUS BER-NU?

Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya

Yang menyaksikan langsung al-Quran dan Kanjeng Nabi Saw. adalah para sahabat. Sahabat Rasulullah Saw., yang telah dipilihkan oleh Allah untuk dijadikan sahabatnya Rasulullah, yang diwisuda langsung oleh Allah Swt.:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama beliau adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. al-Fath ayat 29).

Dan wisudanya Allah kepada para ulama adalah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama.” (QS. Fathir ayat 28). Dan banyak lagi.

Kesaksian Allah Swt. atas para auliyanya Baginda Nabi Saw. diwisuda langsung:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus ayat 62).

Jadi sahabat menyaksikan kebesaran Rasulullah Saw. Rasulullah menyaksikan kebesaran, keluasan dan kehebatan al-Quran. Sedangkan al-Quran itu sendiri dari Allah Swt. menyaksikan kebesaran Baginda Nabi Saw. Dan al-Quran menyaksikan kebesaran para sahabat, para sahabat menyaksikan kebesaran para ulama, para ulama menyaksikan kebesaran sahabat dan Baginda Nabi Saw. Selalu balance, antar-ulama saling menyaksikan. Ini yang disebut asanid (sanad-sanad).

Barulah muncul Asy’ariyah, Maturidiyah, dan madzhab-madzhab yang lain karena beliau-beliau ini yang banyak disaksikan oleh ulama antar ulama, auliya antar auliya, auliya disaksikan sahabat, sahabat disaksikan kebenarannya oleh para ulama dan auliya, dan sahabat menyaksikan kehidupan Baginda Nabi Saw. Lalu kita tidak kenal dengan mereka, mau memahami al-Quran dan al-Hadits? Lucu, aneh bin ajaib, mustahil!

Disinilah munculnya akidah-akidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawa oleh para beliau. Musalsal (sambung-menyambung), bukan sekadar Ahlussunnah wal Jama’ah karena adanya Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama berkewajiban mewadahi.

Maka maaf saja, banyak orang yang kualat sama NU. Bukan masalah individunya. Soal kita tidak akur (tidak sependapat) dengan si A boleh-boleh saja, itu dinamika berpikir. Tapi akidahnya itu loh yang di dalam NU ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah, itu yang memegang para auliya, para ulama mutaqaddimin (terdahulu), az-zahidin (ahli zuhud), ash-shalihin (orang-orang saleh), al-‘arifin (yang makrifat billah). Dari situlah yang menjadikan kualat. Bisa dilihat orang yang tidak suka dengan NU. Saya tidak bermaksud mendoakan keburukan.

Apalagi yang sering mengucapkan, maaf saja jika kebetulan dan para santri jangan smapai menirunya, “Tidak usah NU-NU-an, yang penting Ahlussunnah wal Jama’ah.” Eh... hancur kamu. Ingat! Kita hanya mengulas atau mensyarahi, kenapa Syarif Husain tidak mempunyai kekuatan? Karena nidzam (organisasi) Ahlussunnah wal Jama’ah pada waktu jaman Syarif Husain tidak sempat dibikinkan wadah. Itu rahasinya. Maka ketika muncul golongan tersebut (Salafi-Wahabi, Red), dapat dihancurkan dengan mudah. Karena apa? Ma ‘indahu an-nidzam (Syarif Husain tidak memiliki organisasi), hanya kekuatan agama Islam saja, Ahlussunnah wal Jama’ah saja, tapi untuk nidzam lemah.

Dan bagaimana cara menghancurkan nidzam ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah? Sedikit demi sedikit, “Tidak usah NU-NU-an, yang penting Ahlussunnah wal Jama’ah”. Maka yang terjadi seperti di jamannya Syarif Husein, dihancurkan mudah!

Insya allah NU banyak barokah didalamnya karna banyak ulama ulama soleh.

0 Response to "MENGAPA HARUS BER-NU?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel